Menanti dalam
Ketenangan
Oleh Ana_Pena
“Tidak peduli berapa lama waktu penantia.
Biarkan cara Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat.”—Ana_Pena
Malam
itu seorang gadis duduk di tepi pintu. Memandang ke arah langit, sembari menuliskan
beberapa bait puisi. Dia menulis puisi sebagai bentuk curahan hati, yang tidak
mampu dia ucap dengan lisan. Puisi tentang penantian saat menjemput separuh
agama.
Entah
mengapa mala mini rasanya terasa berbeda. Seperti ada rasa kerinduan, namun
entah rindu itu milik siapa. Dibalik kerinduan itu, tiba-tiba saja dai
menangis. Dia bingung dengan perasaan malam ini yang telah di alami olehnya.
Dia tidak tahu rindu dan tangisan itu untuk siapa.
Saat
teringat hal itu, dia berkata lirih dalam hati, “Ya Rabb, hamba tidak tahu
mengapa Engkau hadirkan rasa rindu dan tangisan ini. Mungkin saat ini ada salah
satu hambamu yang tengah berjuang mencariku. Mudahkan Ya Rabb, izinkan kami
saling bertemu dengan caramu.”
Bulir
air mata terus mengalir tak terbendung. Semakin sunyi malam itu, membuat Jannah
semakin larut dalam tangisan. Tiba-tiba saja suara lembut terdengar mencoba
bertanya padanya.
“Kenapa
kamu menangis, Nak?” Tanya Ibu diliputi rasa cemas juga bingung.
“Ehm
… Jannah nggak apa-apa, Bu. Hanya terhanyut dengan satu puisi yang Jannah buat
saja bu.” Tutur Jannah.
“Bolehkan
Ibu melihat puisinya, Nak?” Tanya Ibu lagi.
“Tentu,
Bu. Ibu boleh membacanya.” Jawab Jannah.
Jannah mengeringkan air mata dengan
punggung tanggannya. Dia menyerahkan puisi yang telah dibuat pada Ibu. Menutupi
perasaannya dengan tersenyum agar Ibu tidak merasa khawatir. Ya, sesungguhnya
pemilik hati tengah menguji dirinya saat ini. Mampukan dia melewati masa penanian
dengan penuh ketenangan. Atau berakhir dengan rasa lelah bahkan kegelisanan.
Cinta sejati itu butuh di uji. Mampukah
dia bertahan menjaga rasa dalam koridornya, ataukah abai tidak menggunakan cara
yang di kehendakinya. Ibu yang membaca puisi itu pun menangis. Dia memahami
perasaan anaknya. Hanya terucap doa dari Ibu.
“Anakku sayang, Ibu yakin Allah
memberikan seseorang yang akan berjuang bersamamu, Nak. Hadapi kesulitan saat
ini dengan ketenangan. Biarkan cara Allah menghadirkan sebuah pertemuan. Tetap
semangat memantaskan diri, Nak.”
“Iya, Ibuku sayang. Makasih banyak
doanya, Bu.”
Dia memeluk wanita yang paling
dicintainya. Dia merasa tersentuh dengan untaian doa penuh ketulusan dari Ibu.
Ada semangat baru yang menjalar, menjadi kekuatan untuk semakin memantaskan
diri.
#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPDay57
Komentar
Posting Komentar