Aku Terlalu Mencintai Mereka, Bang!
Oleh Ana_Pena
Sore itu hujan mulai turun. Tanah yang mengering, kini mulai basah tersiram hujan. Hawa dingin semakin menusuk kulit, hingga membuat tubuh terasa menggigil.
Dari kaca mobil kulihat, di titik tertentu jalanan banjir. Luapan air dari selokan kecil, tak tertampung hingga membanjiri jalan. Semua yang ada di mobil masih asyik bercengkrama dengan topik bahasan masing-masing.
Saat itu Hana bersikap usil, mencolek bagian bahuku. Ya, nama kami sama. Hanya saja kami berbeda dari segi usia. Dia masih berumur 9 tahun, sedangkan aku belasan tahun lebih tua darinya. Aku menyapa terlebih dulu.
"Kenapa mbak? Colek-colek mulu ya."
"Nggak apa-apa."
Dia tersenyum sambil memamerkan barisan giginya yang berwarna putih.
Selain nama yang sama, kami berdua memiliki mesin kecerdasan yang sama. Intuiting adalah mesin kecerdasan yang kami dapatkan dari Allah. Tak heran, jika sepanjang jalan selalu saja ada obrolan menarik, saling usil dan tertawa bersama. Itulah tabiat dari mesin kecerdasan yang kami miliki.
Kami duduk dibagian belakang. Kali ini suasana lebih ramai, karena beberapa menit lagi kami tiba di tempat tujuan. Sesampainya di salah satu Rumah Makan di daerah Ciater, sudah ada beberapa orang yang menantikan kehadiran kami. Ada Bang Ardie, dan teman-teman lainnya dari team management pusat yang sudah berada di satu ruangan.
Satu sama lain saling memperkenalkan diri. Biasanya hanya menyapa dalam Zoom Meeting, namun kali ini bertemu secara langsung. Ada kebahagiaan tersendiri saat bertemu secara langsung.
Bagian menariknya, saat aku bertemu dengan Bang Ardie. Sangat jarang sekali, aku mampu membuka diri dengan orang yang baru pertama di kenal. Namun dengan Bang Ardie semua terasa ringan. Meski ada sedikit kecanggungan, dia mampu mencairkan suasana.
"Sekarang kerja dimana, Han?" Tanya Bang Ardie.
"Di salah satu lembaga berhubungan dengan anak-anak, Bang. Tapi sekarang lagi rehat."
"Kenapa? Ada masalah?"
"Nggak ada masalah, Bang. Nggak tahu kenapa Allah buat hati ini gelisah. Berkali istikharah minta yang terbaik, namun jawabannya hanya rasa gelisah, Bang."
"Gelisah itu pasti ada sebabnya."
Aku hanya tertunduk, mulai menahan kata karena merasa tidak mampu melanjutkan kata. Tiba-tiba saja, bulir air mata keluar terasa hangat di pipi. Bang Ardie masih menatapku. Dia masih menunggu kata yang keluar dari mulutku.
"Sebenarnya, aku sangat menyayangi mereka Bang. Bahkan memendam rindu pada mereka membuat dada sesak. Selepas salat, kupandangi wajah-wajah mereka yang polos dan terasa kedamaian."
Bang Ardie tersenyum, dia seakan paham apa yang menjadi sebab sebuah kegelisahan itu hadir. Sosok abang yang tegas itu, kini mulai memberikan sebuah nasihat yang membuat adiknya termenung.
"Han, tahu nggak apa yang buat kamu gelisah?"
"Nggak Bang. Hana malah masih bingung. Belum mengerti apa yang harus dilakukan."
"Abang cuma mau kasih tahu, jangan terlalu berlebihan mencintai sesuatu. Sesuatu yang terlalu itu berdampak tidak baik. Boleh sayang sama anak-anak, karena itu sudah jadi fitrahmu. Yang tidak boleh hana lakukan, terlalu berlebihan dalam mencintai mereka."
"Terus, Hana harus gimana, Bang?"
"Lepaskan semua kemelekatan dalam diri, juga rasa bergantung kepada selain Allah. Abang lihat saat ini, kamu terlihat tegar dari luar namun sebenarnya dalam diri begitu rapuh."
Air mata yang mengalir semakin deras. Semakin terbayang wajah anak-anak seakan terlihat di pelupuk mata. Kemudian aku mulai menata hati dan melanjutkan kata kembali.
"Jadi maksud Abang, Hana harus lepaskan anak-anak?"
"Bukan hanya anak-anak saja, tapi segala hal yang kamu cintai coba lepaskan."
Sambil menahan tangis, aku menganggukan kepala pertanda mengerti. Bang Ardie mulai tersenyum. Dia masih ingin mencari tahu tentang hal lainnya.
Komentar
Posting Komentar