Thinking, I’m in Love
Bau harum bunga mawar menggoda
penciuman Aina. Dia duduk di kursi taman, sambil menikmati secangkir teh
hangat. Gadis itu sedikit melamun. Pikirannya tertuju satu nama, yang tengah
dia ucapkan di sepertiga malam.
Mungkinkah dia menjadi gadis yang
akan menerima cinta, dari lelaki yang sering membuat hatinya dongkol? Dia terhanyut
dalam lamunannya. Tanpa menyadari ada seseorang di seberang sana yang menatap
wajahnya dalam-dalam.
Miko duduk di kursi dekat rumahnya
di lantai dua. Dia tengah menikmati malam di temani secangkir kopi yang menjadi
favoritenya. Dia masih menatap gadis yang diam-diam dicintainya. Semua rasa dia
tutupi, karena tidak ingin menodai rasa cinta yang agung.
Dua insan yang Allah takdirkan
saling menyebut dalam doa, menjaga rasa dan kata agar tidak membuat hati
sengsara. Pusat perhatian cinta mereka tujukan pada Rabb yang agung yang
memberi makna cinta mendalam. Diantara mereka tidak banyak kata, ataupun sapa. Hanya
doa yang saling menguatkan diri untuk cinta yang ingin menyatu.
Tidak lama kemudian, ada Bunda Rara
ibunya Miko hadir tanpa di duga.
“Nak, kamu lagi lihatin apa sih? Ibu
perhatikan kamu senyum-senyum sendiri dari tadi,” tegur Bu Rara.
Miko yang mendengar hal itu nampak
malu. Dia menundukkan pandangan. Wajahnya seketika berwarna merah, menahan
malu.
“Ehm … Nganu Bu, nggak apa-apa kok. Cuma
lagi lihat bintang,” jawab Miko sekenanya.
“Jangan bohongi Ibu, Nak. Wajah kamu
mencerminkan ketidakjujuran. Ayo cerita sama Ibu.”
“Nggak apa-apa, Bu. Miko masuk ke
kamar dulu ya, Bu?” Timpal Miko sambil berlalu meninggalkan lantai dua.
Ibu hanya tersenyum melihat gelagat
anaknya. Gayanya yang tampak menutupi rasa cinta, namun perlakuan itu tampak
terlihat jelas menunjukkan rasa jatuh cinta. Bu Rara menatap wajah gadis yang
menjadi tetangganya. Gadis sederhana yang memiliki beragam pesona. Dia berharap
banyak jika suatu saat nanti, gadis sederhana itu menjadi bagian dari
keluarganya.
Pikiran Miko dipenuhi wajah Aina. Wajah
gadis itu terngiang-ngiang dalam ingatannya. Berusaha menepis rasa, namun
semakin ditepis malah semakin menguat rasa. Cinta itu berharap menjadi satu,
dalam bingkai mahligai cinta. Dia berkata dalam hatinya, ‘I think, I’m falling in love with her.’
Komentar
Posting Komentar