Pertemuan Tak Terduga
Oleh Sity Hana Nurjanah
Sebuah pertemuan hadir tanpa kita duga. Jika terpaut rasa, maka bisa jadi dia adalah belahan jiwa. —Sity Hana Nurjanah
Gawai
Ahmad berbunyi. Dilayarnya mucul sebuah nomor tidak dikenal. Tidak heran, jika
nomornya selalu penuh pesan dari nomor tidak dikenal. Rata-rata mereka adalah
peserta yang mendaftar online class
pranikah. Saat itu dia membuka salah satu pesan.
[Assalammualaikum,
betul ini dengan Kak Ahmad admin Klinik Nikah Indonesia?]
[Waalaikumusalam,
iya betul. Ini dengan siapa ya?]
[Mohon maaf sebelumnya kak, Saya Hanan mau mendaftar
kelas pranikah. Boleh saya minta info lebih jelasnya kak?]
[Boleh Kak, saya share
info lengkapnya, ya.]
Ahmad
mengirimkan info pendaftaran pranikah. Dia mengucap syukur, karena ada beberapa
orang yang tergerak untuk ikut kelasnya. Setelah itu muncul sebuah notifikasi
dari pesan m-banking, transferan
sejumlah biaya online class pranikah
tertulis atas nama Hanan Yukafi Majidah.
Hanan
kembali mengetik pesan, untuk melakukan konfirmasi. Saat sudah konfirmasi, dia
dimasukkan ke grup pranikah oleh Kak Ahmad. Dia merasa lega, seperti ada
harapan baru, untuk lebih memantaskan diri. Senyuman mengembang dari wajah
gadis berdarah sunda. Wajahnya yang mungil, memiliki khas tegas campuran darah
sunda dengan garis keturunan jawa.
Mentari pagi menemani kisah Hanan
memperjuangkan separuh agama. Entah di titik mana hatinya berlabuh, dia terus
berjuang menemukan cinta sejatinya,
***
Suasana
taman di pusat kota sore itu terasa sepi. Namun itulah waktu terbaik bagi Hanan
pecandu kata, yang lebih menyukai keheningan saat menuliskan sebuah karya.
Ditemani senja, sepotong biskuit dan teh hangat semakin menambah nikmat suasana
sore itu.
Saat
sedang asyik menuliskan kata, tiba-tiba saja terdengar suara lelaki yang
memanggilnya.
“Hanan?”
Suara
itu membuyarkan konsentrasi Hanan. Catatan yang semula terbuka, terisi barisan
kata itu ditutupnya. Kemudian dia menoleh pada sumber suara. Gadis itu nampak
terkejut dengan sosok yang ada dihadapnnya.
Seseorang
yang pernah dia kagumi dalam diam, tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Lelaki
itu bahkan menegurnya lebih dulu. Keadaan yang tidak sengaja mempertemukan
mereka, hingga membuat mereka terlibat percakapan ringan yang penuh arti.
Menutupi
rasa gugupnya, gadis itu mulai menanggapi dengan sebuah pertanyaan yang cukup
klise. Ya, seakan dia lupa pada sosok dihadapannya. Padahal sosok itu adalah
sosok yang paling diingat sampai saat ini.
“Hamid?
Apa benar itu kamu?” Tanya Hanan dengan wajah terlihat bingung.
“Ya, aku
Hamid. Masih ingat aku nggak? Ketua Osis di SMK tempo lalu.” Jelas Hamid.
“Masya Allah, dikira bukan kamu. Banyak
berubah ya, sampai aku nggak kenali kamu loh.” Ucap Hanan penuh antusias
bertemu kawan lama.
“Ah,
biasa saja. Aku masih kayak dulu, nggak banyak berubah kok. Yang ada, kamu yang
banyak berubah. Sudah berjilbab lebar, bahkan sikapmu banyak berubah juga.”
Papar Hamid penuh senyuman.
Senyuman itu menyiratkan
satu bentuk kekaguman. Tanpa sepengetahuan Hanan, Hamid selama ini telah
memendam rasa padanya. Dia menjadi pengagum rahasia yang selalu memperhatikan
gadis itu dari kejauhan. Dia menyadari wanita yang dikaguminya banyak berubah.
Itulah yang menjadi alasan kuat untuk berani melangkah menghalalkan Hanan.
Lamunan Hamid pun terhenti,
saat gadis yang dikagumi menimpali perkataannya.
“Banyak yang aku lewati,
Mid. Alhamdulillah, aku bersyukur ada
di titik ini, meskipun awalnya terasa berat saat memulai. Oh, iya kerja dimana
kamu sekarang?”
“Yah, kuli biasa saja, Nan.
Yang penting bisa cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.”
Sengaja Hamid menutupi
pekerjaannya. Dia tidak mau memperlihatkan apa yang dia punya kepada Hanan.
Selama ini dia mengenal Hanan sosok yang sederhana. Gadis itu tidak menyukai
laki-laki yang bersikap seolah-olah memiliki segalanya.
Hamid mengetahui hal ini
dari setiap goresan pena yang terucap lewat tulisan dari blog milik Hanan.
Sumua tentang Hanan dia cari, namun tetap menjaga batasan chat, pandangan agar semua tetap terjaga.
“Oh, iya udah sore juga nih.
Hanan pamit ya. Nggak enak juga, kita ngobrol Cuma berdua. Khawatir menjadi
fitnah, Mid. Assalammualaikum.” Ucap
Hanan sambil menutup catatan, menenteng ransel hitamnya dan berlalu
meninggalkan Hamid yang masih berdiri di taman.
“Iya, silakan Hanan. Waalaikumusalam.”
Setelah pertemuan itu, keduanya
sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanan yang terkejut dengan kedatangan
Hamid. Dan Hamid masih merasa butuh perjuangan lebih keras untuk meluluhkan
hati gadis yang dikaguminya. ‘Dia semakin terjaga, bahkan kehadiranku saja
membuat dia tidak nyaman, dia tetap tidak bergeming.’ Lirih Hamid berkata dalam
hatinya. Senyuman kecil terukir dari wajah tampan lelaki itu.
Komentar
Posting Komentar