Jejak Pertemuan
Oleh : Sity Hana Nurjanah
Azan Subuh berkumandang. Aina terbangun dari
tidurnya, untuk memenuhi panggilan dari Sang Pencipta. Matanya mungkin masih
merasakan kantuk. Namun kerinduan pada Rabb yang angung, membuat dia melupakan
rasa kantuknya. Bagi gadis mungil itu, Allah adalah segalanya dalam kehidupan.
Perempuan itu membasuh mengambil air wudu. Perlahan
dia membasuh air wudu itu pada wajah, tangan, rambut, dan bagian lainnya. Ada kesegaran
yang dirasakan saat air itu menempel pada lapisan kulitnya. Hawa dingin di
waktu fajar, menambah kesejukan.
Kemudian
Aina menggelar sajadah. Menghadapkan wajah, memusatkan pikiran agar merasakan
kehadiran Allah. Kalimat takbir berkumandang dari bibirnya. Sayup-sayup
terdengar surat Al-fatiha dan surah Al-Ikhlas yang dibacakan di rakaat pertama.
Saat berada di pertengahan ayat, tiba-tiba air mata mengalir ke pipi.
Kandungan
ayat itu membuat dia mengingat, tidak ada tempat bergantung selain Allah. Mengakui
keesaan Allah, menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Rakaat kedua
di salat Subuh, Aina membacakan surat Al-Insyirah. Ayat ini membuat gadis itu
merasakan indahnya perjuangan melewati kesulitan, karena bersama dengan itu
Allah memberikan beragam pertolongan.
Usai
salat, gadis itu mengambil mushaf, melantunkan ayat qur’an yaitu surah
Al-Waqiah. Setelah mengaji, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu dari
luar. Ibu memanggil Aina untuk membicarakan sesuatu hal.
“Nak,
buka pintunya, Sayang? Ibu mau berbicara,” tutur Ibu.
“Sebentar,
Bu.”
Aina
bergegas bangkit dari tempat salatnya untuk menemui ibu. Dia penasaran, apa
sebenarnya yang ingin ibu katakan. Selama ini, Ibu jarang sekali mengetuk pintu
di waktu Subuh. Ibu tahu, agenda anaknya setelah subuh itu mengaji juga
murajaah hapalannya. Berbeda dengan pagi ini, sepertinya ada hal penting yang
ingin ibu utarakan.
Aina
membuka pintu, tersenyum pada Ibu saat memandang wajah wanita yang dicintainya.
Semua cinta makhluk yang utama ada untuknya. Perempuan mulia yang tanpa kenal
lelah menjaga.
“Duduk
dekat Ibu. Kesini, Nak.”
“Iya
Ibu cantik. Ada apa, Bu? Kok terlihat serius begitu sih?”
“Nak,
Ibu mau mengajukan satu pertanyaan. Kamu jawab jujur ya, Sayang.”
“Mana
bisa Aina berbohong pada Ibu. Aina selalu berusaha untuk menjaga kepercayaan
Ibu.”
“Baiklah,
simak baik-baik pertanyaan Ibu. Apa kamu kenal dengan dosen yang bernama Miko?”
“Kenal,
Bu. Dia dosen Aina di kampus. Memangnya
kenapa bu?”
“Nak,
tahukan Pak Hamid Rektor yang membantumu masuk ke Universitas. Dia menyuruh Ibu
untuk menawarakan anaknya buatmu, Nak. Anaknya Pak Hamid itu adalah Miko.”
Aina
terperanjat. Dia diliputi rasa bingung dan kaget luar biasa. Mana mungkin ini
bisa terjadi, Dosen Miko orang yang pernah membuatnya dongkol. Sekarang dia
mendapat tawaran dekat dengan lelaki bermata elang itu.
Lama
terdiam …
“Nak,
gimana pendapatmu? Apa kamu mau terima tawaran ini? Ibu sangat berharap kamu
mempertimbangkan tawaran ini.”
“Baiklah,
Bu. Aina menurut pada Ibu. Namun izinkan Aina untuk salat Istikharah meminta
petunjuk dari Allah.”
“Ibu tunggu hasilnya ya, Sayang.”
Aina
hanya mengangguk. Bu Nadia tersenyum pertanda bahagia. Setidaknya dengan
jawaban itu, dia masih memiliki kesempatan untuk membujuk putri semata
wayangnya, agar mau menikah dengan Miko.
#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPBatch8
#ODOPDay34
Komentar
Posting Komentar