Be The Best Version of
Me
Oleh : Sity Hana Nurjanah
Aina
berjelan di koridor kampus. Kemudian dia terhenti sejenak, berjongkok untuk memasang
tali sepatu yang terlepas. Wajahnya menunduk sambil melihat ke arah tanah di
depannya. Dia terkejut saat menatap sesuatu yang tidak jauh dari pandangan
matanya. Dia berdiri, mengarah ke tempat itu. Hatinya diliputi rasa gelisah. Merasa
iba melihat binatang mungil yang terluka bersimbah darah.
Seketika
dia berlari, berniat menolong binatang tersebut. Sayang, luka yang dialami
kucing itu cukup parah. Nyawa kucing tidak tertolong, dan kini di hadapannya,
hanya jasad yang sudah terbujur kaku. Aina menangis. Butir air mata membasahi
pipinya.
Aina Memberanikan diri mengambil
jasad kucing itu. Diambilnya tubuh dengan sebuah keresek besar. Jasad yang berceceran,
membuatnya lebih merasakan pilu. Ada saja orang di jaman sekarang yang tidak
memiliki rasa. Kucing binatang yang Rasulullah cintai, namun di perlakukan
secara tidak baik. Ini yang membuatnya sedikit geram kepada orang di
sekitarnya.
Beberapa orang yang melihat Aina
melakukan itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka menganggap hal itu
tampak berlebihan. Seorang pemuda perawakan tinggi dengan garis wajah tegas
berkata, “Seekor binatang tidak perlu diperlakukan seperti itu. Hanya orang bodoh
yang melakukan hal itu.”
Aina pura-pura tidak mendengar. Padahal
dia nampak geram dengan perkataan pemuda itu. Hamzah, nama pemuda itu. Dia mahasiswa
terkenal urakan, sering bolos, bahkan mendapat julukan preman kampus.
“Apa kamu tuli? Kenapa tidak
berhenti melakukan hal itu?” Gertak Hamzah.
“Aku tidak akan berhenti, karena ini
bagian dari tugasku,” timpal Aina dengan tegas.
“Jangan bodoh. Kamu terlalu lugu dan
bodoh, mengurusi seekor kucing busuk yang sudah menjadi bangkai.” Ledek Hamzah.
“Aku memandang kucing itu bukan
sebagai binatang. Dia makhluk Allah yang wajib kita cintai. Sayangi yang
dibumi, maka yang di langit akan menyayangi kita.” Jelas Aina.
“Sudahlah, kamu tidak usah
berceramah di depanku? Aku muak mendengar perkataan itu.”
Sudut lain, ada Dosen Miko yang
memperhatikan Aina dan Hamzah berdebat. Miko menaruh kagum pada Gadis itu,
meskipun dia pernah mengecewakan tempo lalu karena keterlambatannya. Dia
melihat gadis itu penuh empati, dan berani menghadapi resiko saat di tempat itu
ada seseorang yang tidak sependapat dengannya.
Dosen muda itu mendekati kedua
mahasiswanya. Yang satu murid teladan, sedangkan yang lainnya adalah preman
kampus. Hanya dengan Dosen Miko, Hamzah bisa di kendalikan sikapnya. Ya, tempo
lalu pertama kali Dosen Miko mengajar, dia ditantang untuk berduel. Jika salah
satu diantara mereka kalah, maka wajib menerima konsekuensi yang dibuat sesuai
kesepakatan.
Hamzah sudah berlagak sombong. Dia yakin
mampu mengalahkan Dosen Miko. Taruhannya adalah jika Hamzah menang maka dia
diperbolehkan untuk bolos mata kuliah bersama Dosen Miko. Jika Dosen Miko yang menang,
maka Hamzah harus mau mengakui kekalahannya dan tidak akan berbuat onar kembali
di kampus.
Beruntung pihak dekan ataupun
petinggi kampus tidak mengetahui kejadian ini. Dosen muda itu aman, bahkan
mampu mengalahkan Hamzah dengan telak. Hamzah tidak berkutik saat mendapatkan
kuncian, tangan yang di Tarik ke bagian belakang sekaligus. Disitulah muncul
ketakutan Hamzah, mau menurut pada dosen muda itu.
Ilmu karete yang di pelajari Dosen
muda itu berguna saat genting, terutama menghadapi permasalahan yang berujung
adu kekuatan. Kabar kekalahan Hamzah tersebar di kampus, bahkan semua anak
buahnya terkejut. Selama ini, tidak pernah ada yang bisa menaklukan preman
kampus tersebut.
“ehm … Lagi ada ribut apa nih?" Sahut Dosil en Miko.
"Nggak ada Pak, saya permisi." Jawab Aina sambil meninggalkan dua lelaki dihadapannya.
Hamzah terkejut dengan sikap Aina. Tidak biasanya dia mengacuhkan Dosen sebagai guru yang mengajarinya. Sikap hormat selalu dia tunjukkan. Hal itu yang membuatnya menjadi murid teladan di kampus. Bukan hanya Hamzah, Dosen Miko pun terheran. Segalak-galaknya dia bersikap, ketika di perlakukan lebih galak dia merasa bingung.
Namun itulah Aina. Gadis yang tidak mudah terpatahkan argumennya. Berani bersikap, dan tidak takut menghadapi resiko dengan apa yang menjadi keputusannya. Aina selalu berprinsip, ingin selalu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
#ODOP
#ODOPChallange5
#ODOPDay32
Kasihan kucingnya .. . Aina baik hati sekali 😘
BalasHapusVersi terbaik dari diri sendiri. Catatan untukku....keren
BalasHapusKoo kaget dengan hastagnya ya wkwkw
BalasHapusSemangat semangat kak
Yang gituin kucingnya kejam banget deh..
BalasHapusTim penyayang kucing :( paling ga tegaa
BalasHapusBerprinsip ♡
BalasHapusSemangat terus menulis fiksi pendek yaaa
BalasHapusjadi kepo, kucingnya sudah dikubur sebelum masuk kelas kan?
Aku kepo lanjutan ceritanya Kak. Ada apa dengan Aina dan Dosen Miko?
BalasHapusMantapp ceritanya... Aku suka bagian terahirnya
BalasHapusGak tega sama kucing, tapi aku gak berani pegang kucing 🤔
BalasHapusdosen mudaaaa pinter karate... hmmm, idaman mahasiswi banget... eh btw, udah nikah belum dosen mikonya?
BalasHapusme as a cat lover :)
BalasHapusAina.. ... Kalo lihat kucing suka kasihan namun ga berani menyentuhnya
BalasHapus