AKU INGIN MENIKAH, BU…

Sore itu ditepi pantai terdengar sebuah percakapan yang menarik. Seorang anak perempuan berusia 23 tahun bernama Naira, meminta izin pada ibu asuhnya untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Naira kala itu berbicara dengan nada tampak serius pada ibunya.

“Bu, Naira ingin menikah! ungkap Naira dengan wajah tegang menanti sebuah jawaban.”

“Benarkah itu nak? Apa benar kamu ingin menikah?! Tanya Bu Nur dengan nada sedikit terkejut.”

Bu Nur balik mempertanyakan pertanyaan yang di ucapkan oleh Naira. Dia tahu ketika Naira menginginkan sesuatu pasti hal itu akan dilakukannya. Hanya saja kali ini Bu Nur benar-benar dibuat terheran akan ucapan dari anak asuhnya.

Percakapan hangat itu tampak hening dan bermuara pada masing-masing pemikirannya. Lalu selang beberapa menit kemudian mulai terdengar kembali jawaban Naira.

“Benar bu. Naira ingin menikah. Naira sudah yakin dengan pilihan Naira bu. Dan percaya bahwa semua hal yang akan terjadi nanti bisa kami lewati. Kami saling mencitai bu! Pungkas Naira untuk meyakini ibu asuhnya akan keinginannya tersebut.”

“Apa kamu sudah berbicara dengan ayah ataupun ibu mu nak? Tanya Bu Nur menyelidik.”

“Belum bu, Naira belum bilang pada ayah dan ibu. Naira ingin tahu tanggapan ibu terlebih dahulu.”

Bagi Naira ketika semua pembicaraan tentang apapun dibicarakan kepada ibu  asuhnya maka semua akan ada sebuah titik terang. Bagi Naira, bu Nur sudah seperti ibu kandungnya. Bahkan Naira bisa lebih terbuka pada Bu Nur dibanding kedua orangtuanya. Nira memang jarang mengeluh pada kedua orangtuanya, namun pada Bu Nur, Naira menceritakan semua beban dan permasalahan hidupnya.

Sikap orangtua Naira yang acuh, membuatnya lebih nyaman untuk sekedar berbagi cerita sepele ataupun hal penting dengan Bu Nur. Sosok yang amat sangat mengerti, tidak mudah menjudge dan selalu tahu solusi yang terbaik bagi Naira.

Kadang kedekatan Naira dan Bu Nur membuat iri anaknya Bu Nur. Nadira, anak kandung Bu Nur yang berusia satu tahun lebih tua dari Naira. Nama Naira pun konon diberikan Bu Nur kepada oragtuanya Naira agar bisa memiliki kedekatan antara Naira dan Nadira.

Lain dari kenyataannya, keduanya tidak memiliki kedekatan sama sekali, karna Nadira terlalu cemburu dengan kehidupan Naira juga kedekatannya dengan Bu Nur. Nadira merasa, Bu Nur telah pilih kasih kepada Nadira. Padahal sifat Nadira sendiri yang egois, membuat Nadira rugi, dan kehilangan banyak hal.

Percakapan antara Naira dan Bu Nur sore itu diakhiri dengan sebuah nasihat yang membuat Naira berpikir dua kali untuk menikah. Dia harus lebih banyak belajar agama, mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan, menjadi seorang ibu, dan membuat rencana matang agar pernikahannya berjalan sesuai dengan harapan.

Lalu Naira mengangguk, menandakan bahwa dia sudah paham dengan apa yang dibicarakan Bu Nur. Tegasnya, meski umur sudah dirasa cukup dan mental sudah siap, namun tanpa ilmu dan persiapan lainnya khawatir akan mengganggu keberlangsungan rumah tangga Naira kelak.

Bu Nur ingin bahwa pernikahan Naira bukan hanya bahagia di dunia namun bisa sampai menjadi pasangan bahagia diakhirat kelak.

***

Keesokan paginya, Naira memberi kabar pada seseorang agar bisa bertemu dengannya. Dia bergegas pergi pagi sekali, menggunakan skuter kesayanannya untuk bertemu dengan kekasihnya.

Pagi itu, dia akan bertemu dengan Mas Rey di café dekat rumahnya. Naira akan membicarakan tentang rencana pernikahannya yang hendak ia tunda. Dia berharap agar Mas Rey mengerti akan keputusan yang diambil olehnya.

Tampak seorang pria berperawakan tinggi dan berkulit putih, yang mengenakan setelan kemeja biru dengan celana katun hitam, sedang menunggu Naira di pojokan kafe. Dia nampak begitu mempesona, dibalut dengan jam Rolex yang terpasang dilengan kirinya.

Naira datang di kafe beberapa menit kemudian. Dia memarkirkan  skuternya disamping CBR merah milik Mas Rey. Naira bergegas masuk menuju kafe, melirik ke arah kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Mas Rey.

Mas Rey yang menyadari kedatangan Naira, dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan kea rah Naira. Dan dia mulai membuka percakapan hangat dengan menyapa Naira terlebih dahulu.

“Selamat pagi bidadari ku. Ucap Mas Rey pada Naira”

“Pagi juga Mas ku. Jawab Naira singkat pada sapaan Mas Rey.”

Kala itu Mas Rey mengerutkan keningnya, dia heran dengan sikap Naira yang tampak tak seperti biasanya. Mas Rey menyembunyikan keheranannya ketika melihat wajah Naira yang gugup. Lalu dia mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana dengan memesan makanan.

Mas Rey dengan sigap memanggil pelayan Kafe untuk memesan beberapa menu yang disukai Naira. Menunya akan tetap selalu sama. Lemon Tea Hangat, Kentang goreng, dan salad buah kesukaan Naira. Sedangkan Mas Rey lebih suka berganti-ganti menu tergantung dengan suasana hatinya. Pagi ini dia memesan menu yang sama seperti Naira.

Lalu Mas Rey membuka percakapan dengan bertanya soal pernikahannya.

“Gimana sayang, kita mulai obrolan ini dari mana dulu nih? Tanya Mas Rey membuka percakapan inti kami.

Naira masih dengan wajah bingung, berpikir keras untuk memulai pembicaraan. Akhirnya, setelah beberapa detik mengumpulkan keberanian, Naira buka suara.

“Mas, Ibu menyuruhku untuk menunda pernikahan kita. Ucap Naira.”

“Apa? Alasannya kenapa? Tanya Mas Rey menyelidik.”

“Iya Mas. Ibu menyuruh Naira belajar terlebih dahulu. Ibu khawatir jika pernikahan dibangun tanpa persiapan matang, bahtera rumah tangga kita akan mudah hancur. Papar ku panjang lebar menjelaskan penundaan pernikahan.”

Sebelum Mas Rey balas menyanggah ucapan Naira, tiba pelayan kafe mengantarkan makanan dan minuman yang dipesan. Diam seketika saat pelayan kafe itu datang. Setelah pelayan kafe tersebut selesai menyuguhkan pesanan kami, baru Mas Rey kembali membuka pembicaraan kembali.

“Tunggu, tunggu… jadi maksud kamu kita gak jadi nikah bulan depan gitu? Selidik Mas Rey kepada ku.”

“Iya mas, kita tunda pernikahan. Kita pasti akan menikah, hanya saja tidak dalam jangka dekat ini mas. Beri aku waktu untuk belajar mas. Ungkap ku dengan penuh ketegasan agar Mas Rey memahami.”

 “Bodoh! Kamu membatalkan pernikahan hanya karna alasan itu. Gak masuk akal Naira, itu alasan yang konyol. Kamu tahu kita bukan anak kecil lagi Naira. Kita sudah dewasa, tahu mana yang baik mana yang tidak. Jika harus ditunda selama itu, untuk apa kita perpanjang hubungan ini.”

Bertubi kata-kata yang keluar dari mulut Mas Rey membuat Naira mematung seketika. Naira tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut lelaki yang dicintainya. Memang dia tahu peranggai Mas Rey arogan dan tajam lidahnya, namun Naira tidak habis pikir Mas Rey sampai sejauh itu berbicara padanya.

Dan yang lebih menyakitkan dia mengakhiri hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun. Apa sudah tidak ada lagi kata-kata yang lebih layak diucapkan Mas hingga kamu setega itu berbicara pada ku. Batin Naira menjerit mendengar ucapan Mas Rey.

Tak terasa linangan air mata mulai membasahi pipi Naira. Melihat Naira yang menangis bukan membuat Mas Rey simpati. Alih-alih membuat dia menambah kata-kata yang lebih tajam dengan suara meninggi.

“Denger ya Naira, Ayah kamu perusahaannya hampir bangkrut dulu siapa yang bantu? Ibu kamu hampir mati di rumah sakit siapa yang bantu? Itu Aku Naira. Aku yang bantu keluarga kamu. Penghinaan macam apa ini dengan semua pernyataan kata-kata mu.” 

Naira tidak menyangka bahwa Mas Rey akan berkata seperti itu. Alasan kenapa dulu dia membantu Naira bukan karna ketulusan. Ternyata tujuannya adalah agar Naira mau menikah dengannya. Pernikahan bagi Mas Rey hanya sebuah formalitas. Pernikahan baginya hanya ajang untuk balas budi, bukan karna ibadah dan cinta tapi semua karna balas budi.

“Naira akui, mungkin perempuan yang tidak tahu diri, namun dari ketidaktahuan diri itu, Naira belajar bagaimana bersikap meski semua tak sesuai dengan harapan Mas. Naira pergi Mas, maaf untuk semuanya. Ucap Naira sambil membalikkan badan dan pergi meninggalkan Mas Rey.”

Naira pergi meninggalkan kafe dengan terburu-buru. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Wajahnya sudah tidak jelas tertata karna banyak air mata yang jatuh. Naira memarkir scoternya dengan cepat, dan berlalu meninggalkan Mas Rey sendiri tanpa kata.

***

Beberapa minggu berlalu. Keadaan hati Naira belum membaik. Dia memblokir semua nomor Mas Rey dan pergi jauh dari rumahnya. Tidak ada seorangpun yang tahu kemana Naira pergi termasuk Mas Rey. Dia menghilang bagai ditelan bumi.

Saat Naira bingung, hingga tak tahu kemana harus pergi. Akhirnya dia pergi ke tepi pantai. Itu tempat persinggahan ketika dia bingung dan sedih. Rumah Bu Nur yang berada di tepi pantai mampu mengobati kegelisahan dan luka hatinya.  

Bu Nur terlihat sedang menyiram beberapa tanaman kesayangannya. Terkejut dengan kedatangan Naira yang tiba-tiba. Naira seketika langsung memeluk Bu Nur dan menangis sejadinya dipelukan Bu Nur. Setelah tenang kemudian Naira menceritakan kejadian beberapa minggu lalu di kafe bersama Mas Rey. Dia menceritakan semuanya tanpa sedikitpun ada yang terlewat.

Sudah ibu duga semua akan terjadi seperti ini Nak. Ibu tahu bagaimana sifatnya Rey, dan ibu tahu selama ini pekerjaannya sebagai apa dan hal apapun tentang Rey. Hanya saja ibu takut jika berbicara pada mu saat kamu masih berhubungan dengannya, kamu tidak akan mempercayai kata-kata ibu. Tutur Bu Nur pada Naira yang masih menangis tersedu.

Lalu Naira harus bagaimana Bu? Naira takut dia meminta ganti rugi total biaya rumah sakit dan uang modal yang diberikan kepada Ayah. Jumlahnya besar bu, semua hampir bernilai 1 milyar bu.

Naira masih bersyukur karna dulu sekolahnya yang sempat akan dibiayai Mas Rey tidak pernah terjadi. Naira berhasil menempuh jalur beasiswa. Begitu pula dengan gelar Masternya sekarang, ia ambil dari jalur beasiswa kembali.

Tenanglah Nak, kita pecahkan sama-sama permasalahan ini. Jika benar memang harus ganti rugi maka ibu yang akan mengurusnya. Jawab Bu Nur.

Di ujung pintu ada Nadira yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Nadira tampak tersulut emosinya ketika mendengar ibunya yang akan membantu Naira untuk membayar uang ganti rugi. Dia keluar dengan tatapan mendelik tajam pada Naira yang masih terlihat menangis.

“Ibu tidak boleh membantu Naira. Kalau ibu sayang Nadira dan menganggap sebagai anak kandung ibu, ikuti kata-kata Nadira. Ibu sudah terlalu banyak berkorban untuk dia bu. Dia siapa bu? Dia oranglain, bukan anak ibu atau bahkan bukan keluarga kita bu. Kenapa setiap permasalah yang dia alami harus ibu yang membantu. Kemana orangtuanya? Bukankah dia juga masih memiliki orang tua. Ucap Nadira dengan sengit.”

Bu Nur menimpali ucapan Nadira dengan sangat bijak. Nak, kita sebagai muslim harus saling membantu. Terlebih ibu menganggap Naira seperti anak kandung ibu sendiri. Kalian sama-sama berarti buat ibu. Tolong jangan buat ibu memilih satu diantara kalian berdua. Naira sudah membantu banyak untuk perusahaan kita Nak. Tanpa bantuannya kita tidak akan bisa membuat cabang perusahaan dimana pun.

Nadira mematung. Dia menyadari kesalahannya. Dia tidak pernah peduli terhadap perusahaan. Yang dilakukan Nadira hanya bermain-main tanpa membantu Bu Nur, maka wajar saja jika kali ini Bu Nur membantu Naira sebagai balas jasa.

Dipihak lain Naira angkat bicara, diantara percakapan keduanya. Kak, tak sedikitpun Naira bermaksud untuk menggantikan posisi kakak di hati ibu. Saat kakak sakit dan butuh donor, ibu sampai harus berletih-letih mencari donor untuk kakak. Dan bersyukurnya darah Naira sama dengan kakak. Itulah bukti cinta kami untuk kakak, tolong kakak jangan salah paham.

Seketika Nadira merasa bersalah dan memeluk Naira. Dia berhutang nyawa pada Naira dan ibunya. Dia tahu kini alasan ibunya membantu Naira, bukan hanya menyayangi karna dia baik tapi dia seseorang yang sudah berjuang mengembangkan perusahaannya.

Lalu di susul Bu Nur yang dari belakang memeluk mereka berdua. Dan diantara kami sudah tidak ada permasalahan kembali.

Dan lalu sambil melepas pelukan Nadira sontak berkata, izinin Nadira bantu permasalahan mu dengan Rey.. Kakak tahu titik lemahnya dan akan kakak beri dia pelajaran karna membuat kamu terluka.

Tanpa diduga Naira mendapatkan hikmah dipagi ini. Dia berbaikan dengan Kak Nadira dan masalahnya dengan Mas Rey mulai memiliki titik terang.

Naira bermalam di rumah Bu Nur. Dan dia diajak Kak Nadira untuk tidur bersama. Pertama kali tidur di kamarnya Kak Nadira. Tepat sesuai dugaan Naira, Kak Nadira ini perempuan yang cukup apik dalam menata kamarnya. Desain interior ruangan begitu elegan. Kamar tidur yang cukup luas untuk gadis yang tinggal seorang diri dikamarnya.

Kak Nadira begitu bersemangat, dia menyuruh untuk mandi dan meminjamkan baju tidur miliknya. Semua dipersiapkan dengan sempurna. Dan Naira begitu takjub dengan sikapnya Kak Nadira kala itu. Bu Nur yang melihat di sela pintu keakraban kami berdua, begitu bahagia.

***

Seminggu kemudian Kak Nadira mulai menyusun rencana untuk menemui Mas Rey. Dia menjelaskan begitu detail. Dia tahu banyak tentang Mas Rey, bahkan kabar terburuknya adalah dia bukan seorang manager Restoran ternama melainkan penipu yang menjadi buronan polisi.

Dan banyak sekali gadis yang menjadi korban penipuannya. Bahkan diminggu lalu Kak Nadira sempat tahu bahwa dia telah menghamili seorang gadis. Naira bersyukur dengan segala yang terjadi pada hubungannya dengan Mas Rey. Hal Itu lebih baik bagi Naira.

Kak Nadira berencana, membuat Naira terbebas dari membayar balas budinya kepada Mas Rey. Dan dia berharap agar Naira bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Mas Rey. Dia mulai menyayangi adik asuhnya,  bahkan berjanji untuk bisa membahagiakannya.

***

Sore itu, kami datang ke restoran Mas Rey. Mas Rey tertunduk lemas melihat Kak Nadira dan beberapa anggota kepolisian datang ke restoran. Dia tahu apa yang akan dibicarakannya, namun dia cukup terkejut saat tahu bahwa Naira adalah adik asuh Kak Nadira. Mas Rey tertunduk, dia malu untuk mengakui kalau gadis yang dihamilinya meminta pertanggung jawabannya.

Gadis dihamilinya tak lain sahabat Kak Nadira. Dan mas Rey menipu sahabat Kak Nadira uang sejumlah 700 juta untuk alasan membuat sebuah restaurant mewah. Itulah alasan kenapa kak Nadira bilang bahwa dia tahu titik lemahnya Mas Rey.

Mas Rey akhirnya mendekam dipenjara atas semua tindakan penipuan dan asusila yang dilakukannya. Mas Rey kala itu meminta maaf pada ku, dan bilang carilah seorang pasangan yang lebih baik darinya. Naira hanya terdiam menanggapi ucapannya.

Naira bersyukur kepada Allah atas semua kejadian yang menimpa dirinya. Dan dia berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Dia yakin Allah akan membantunya melewati semua ujian kehidupan.

***

Beberapa bulan berlalu, Naira kini sudah bisa melupakan Mas Rey. Kegiatannya saat ini, mengajarkan Kak Nadira mengelola perusahaan Bu Nur. Dan Naira lebih terfokus membantu Ayah dan Ibu mengurus bisnis keluarga. Semua berlalu begitu cepat, Naira mulai terbiasa dengan kesendiriannya.

Dan atas saran Bu Nur, kini Naira mulai belajar agama dan memantaskan diri untuk jadi pasangan pun ibu yang baik untuk keluarga kecilnya kelak. Menata ulang hidup dengan merubah dari sisi penampilan, pun keseharian menjadi lebih agamis. Dia percaya akan tiba masanya kehadiran seseorang yang telah lama dinantikan.

Banyak hal yang Naira dapatkan ketika dia berhijrah. Dia mendapat teman baru, komunitas baru. Dan yang lebih menakjubkan, kesendirian Naira membuat study S2 lebih cepat selesai. Seolah tesis yang dibuatnya tanpa ada kendala.

Masa wisuda tiba, Naira begitu bahagia karna impiannya menjadi Dosen tinggal beberapa langkah lagi. Bu Nuri dan Pak Bagas orang tuanya Naira, begitu bangga pada anaknya. Meski terkadang mereka mengacuhkan Naira tapi karna kesabaran dan kesungguhan Naira berjuang mebuat orang tuanya luluh.

Bu Nur dan Kak Nadira hadir dalam acara wisuda Naira. Namun kali ini mereka tidak berdua, ada seorang lelaki bersama dengan mereka. Noval Ardiansyah, nama lelaki itu. Dia berperawakan tinggi, berwajah teduh, berkulit putih, dan berpenampilan agamis. Naira mendekati mereka dengan wajah terkejut karna ada wajah asing yang baru dilihatnya.

Saling bergantian antara Bu Nur dan Kak Nadira memeluk Naira. Mereka mengucapkan selamat atas keberhasilan tesisnya. Naira melirik ke arah Kak Nadira, sambil menyenggol sikutnya. Spontan Kak Nadira berkata,

“Aduh, kok kamu senggol kakak sih? Ucap Kak Nadira.”

“Eh, maaf kak gak sengaja. Jawab Naira sekenanya karna menahan malu.”

Sontak saja Kak Nadira baru menyadari maksud dari Naira. Dia lupa mengenalkan Noval adik asuhnya yang lama tinggal di luar Negri. Noval merupakan anak asuh Bu Nur yang pertama sebelum Naira ada. Dia anak yatim piatu yang Bu Nur rawat semasa kecil.

Noval pergi melanjutkan study ke Al-Azhar Cairo membuatnya tidak pernah terlihat di Indonesia. Bahkan sebenarnya Bu Nur ingin menjodohkan Naira dengan Noval jauh sebelum Naira berhubungan dengan Mas Rey. Noval sudah mengetahui tentang Naira dari Bu Nur, bahkan dia menyetujui untuk dijodohkan dengannya.

“Oh iya Naira sayang, kenalin ini adek asuh ku yang pertama. Gimana ganteng bukan? Hehehe.. Ucap Kak Nadira sambil menggoda Naira.”

Naira hanya tertunduk malu tanpa kata. Dia malu untuk menatap lelaki yang baru dikenalnya. Terlebih dia adalah lelaki yang baik.

“Selamat ya, saya Noval anak asuhnya Bu Nur. Ucap Noval”

“Ehmmm… iyaa, terimakasih. Jawab Naira gugup.”

Bu Nur dan Kak Nadira tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Naira bertemu dengan Noval. Pertemuan yang unik. Sama-sama menanti dalam taat, dan ditakdirkan oleh Allah untuk bersama.

Semua diluar rencana Naira, tanpa sepengetahuan dirinya Bu Nur dan orang tuanya menyetujui perjodohan Naira dengan Noval. Pantas saja Noval hadir hari ini, datang jauh dari Cairo ke Indonesia hanya untuk menghadiri wisuda calon istrinya. Noval bersyukur karna kini bisa bertemu langsung dengan Naira.

Tak menunggu lama, 1 minggu pertemuan dua pihak keluarga sepakat menikahkan Naira dan Noval. Dan kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih halal. Setelah menikah Noval berencana kembali ke Cairo. Study S2 yang belum tuntas membuatnya harus kembali ke Cairo.

Perjalanan Indonesia menuju Cairo bukan waktu yang singkat. Kali ini Noval tidak sendiri, ada Naira yang berada disisinya yang menggenggam erat lengannya. Saat dipesawat Noval berbisik pada Naira.

“Sayang makasih ya.Ucap Noval”

“Makasih untuk apa Mas? Jawab Naira”

“Makasih sudah hadir dalam hidup dan sudah bersabar menanti kedatangan Mas. Mas janji akan berusaha untuk membahagiakan Naira. Mas mencintai Mu karna Allah.

Hanya pelukan hangat jawaban un tuk pernyataan Noval. Naira terharu dengan kesungguhan Noval. Mungkin ini menjadi alasan mengapa Allah dulu membuat hancur hubungan Naira dan Mas Rey. Dia akan bertemu dengan lelaki yang baik, yang mencintai dia dengan tulus karna Allah.

 

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPBatch8

#ODOPDay21

Komentar

Postingan populer dari blog ini