Spiritual Success Mentality

 

Makna sukses sejati

          Spiritual success mentality adalah kesuksesan yang melibatkan Allah dalam prosesnya. Pijakan yang menjadi dasarnya yaitu kesederhanaan. Sederhana di sini, bagian dari bentuk sikap (Life Style). Sedangkan dalam urusan berkarya harus lebih maksimal. Spiritual success mentality, kehidupannya di tolong oleh Allah.

 

Kunci sukses (The Keys of Succes)

          Great success fundamental (pencapaian terbaik dalam hidup, terangkum menjadi tiga hal

1.     Believe (Keyakinan)

2.     Purpose (Tujuan)

3.     Action (Tindakan)

Lalu, keyakinan, tujuan, dan tindakan seperti apa yang harus dilakukan???

            Semua orang memiliki keyakinan, tujuan dan tindakan. Namun patut kita cermati 3 hal  yang disebutkan itu, yang seperti apa, menyelamatkan diri.

 

Sebuah kisah keyakinan yang salah

Fir’aun dia memiliki sebuah keyakinan kuat. Terlalu yakin hingga dia menginjak maqomnya Allah. Dia yakin bisa melakukan segalanya. Bahkan dia membuat bangunan tertinggi ingin bisa naik ke langit untuk melihat Tuhannya Nabi Musa (Allah).

Abu Jahal yakin bisa mengalahkan umat muslim pada saat perang badar. Dia mengatakan pada kaumnya akan mengalahkan umat muslim,

 

Sebuah kisah tujuan yang salah

Fir’aun memiliki tujuan membangun peradaban dan monument untuk mengabadikan karyanya.

Abu Jahal memiliki tujuan mengalahkan umat islam agar dia di kenang sebagai peradaban terkuat, hingga bangsa arab merasa takut dan hormat kepadanya.

 

 

Sebuah kisah action yang salah

Fir’aun melakukan segala hal untuk menunjukkan kekuatannya. Dia ingin agar orang-orang bisa mempercayainya sebagai Tuhan.

Abu Jahal melakukan segala hal untuk menghancurkan umat Islam pada perang Badar. Dia membawa pasukan yang banya, tiga kali lipat lebih jumlahnya dii banding umat islam.

               

Dari kisah di atas kita bisa menyelami hikmah yaitu keyakinan, tujuan dan tindakan yang salah akan menghantarkan kita pada kehancuran dan kehinaan. Allah nggak suka hingga akhirnya memberikan kekalahan telak pada mereka. Allah nggak seneng sama hamba yang arogan.

 

Arogan Vs Percaya Diri

                Apa sih perbedaan dari dua kata di atas? Ternyata, dua hal itu memiliki sebuah ciri untuk mengetahuinya.

Arogan memiliki ciri yaitu merasa punya kemampuan, berbangga diri, dan bersandar pada hitungan kertas (hitungan manusia), lupa bergantung pada Allah (kepeleset hati).

Sedangkan Percaya diri memiliki ciri yaitu tersu bergerak dengan hati yang damai, yakin Alah selalu bersamanya, bersandar pada janji dan jaminan dari Allah, dan selalu menjaga hubungan dekat dengan Allah.    

 

Belajar dari kisah Film Titanic

                Titanic adalah kapal yang terbesar, terkuat, dan terbaik pada masanya. Menariknya yang membuat kapal itu mengatakan “Kapal ini tidak mungkin tenggelam, bahkan Tuhan pun tidak akan bisa menenggelamkan kapal ini.” Namun di akhir cerita kita bisa melihat, bagaimana kapal hancur dan tenggelam. Inilah salah satu contoh bentuk arogansi.

                Orang-orang arogan pun memiliki ciri. Cirinya adalah mencari pengakuan manusia, nggak mau mendengar kritik, merasa diri paling benar, suka membanding-bandingkan diri, selalu ingin dipuji, bahkan selalu ingin mengalahkan orang lain. Orang-orang yang arogan itu kepeleset hatinya. Jiwanya nggak tenang, selalu gelisah dan bergemuruh.  

 

Belajar dari kisah Rasulullah

                Pada saat perang badar, umat Islam sempat gentar ketika akan berperang. Beberapa sahabat sempat berprotes perihal keadaan perang yang akan di hadapi. Namun di sini letak iman, sebuah kepercayaan diri tercermin dalam diri Rasulullah. Rasulullah berdoa  saat itu “Ya Allah menangkanlah umat muslim, agar semakin banyak orang yang bersujud kepadamu.”  Keyakinan diri yang kuat, hingga akhirnya Allah memberi kemenangan pada umat muslim. Rasullullah tetap bergerak dengan tenang. Seminim apapun sumber yang dipunya, tetap memiliki keyakinan Allah akan membersamai.

                Orang-orang yang percaya diri memiliki ciri, Cirinya adalah sakinah, mutmainnah, inner peace, ajeg. Punya kebiasaan selalu menolong orang lain, tujuan hanya mencari pengakuan dan ridho dari Allah. Kalau Allah sudah itu yang membuat hatinya tenang.

 

Menjaga diri dari sifat sombong

1.       Selalu mengingat tujuan awal (niat murni)

2.       Terus berlatih melakukan amalan

“Mudah bagi Allah mengambil dalam sekejap apa-apa yang kita kumpulkan bertahun-tahun. Mudah bagi Allah memberi dalam sekejap, apa-apa yang tidak kita kumpulkan bertahun-tahun.

 

Closing statement

Mengutip perkataan Umar bin Khattab :

“Aku tidak perduli susah dan senangku. Karena aku tidak tahu mana di antara keduanya yang baik menurut pandangan Allah.”

Mengutip perkataan Ali :

“Kalau mengabulkan doaku, aku bahagia, Namun saat Allah tidak mengabulkan doaku aku lebih bahagia. Yang pertama itu adalah inginku, namun yang kedua itu adalah inginnya Allah.”

 

#Onedayonepost

#ODOP

#ODOPBatch8

#ODOPDay04

Komentar

Postingan populer dari blog ini