Sepasang Mata Elang
Daun-daun
jatuh berguguran tertiup angin. Tercium bau tanah basah bekas hujan semalam.
Aina duduk menikmati mentari pagi yang menyorot ke dalam kamarnya. Saat itu ada
suara ketukan pintu dari luar, yang membuyarkan lamunannya.
“Nak,
ada telpon dari Miko. Kamu di suruh ke kampus, mau ada rapat lembaga dakwah
kampus.”
Seketika
Aina berlari mendengar nama Miko, dan rapat. Dia hampir lupa dengan janjinya
untuk membuat rancangan program terbaru di rapat LDK. Beberapa detik
berikutnya, dia mengenakan gamis dengan cepat, bergegas keluar kamar menuju
kampus. Sebelum pergi ke kampus dia berpamitan pada ibunya.
“Ibu,
Aina berangkat ya.”
“Loh,
kamu nggak makan dulu, Nak?”
“Nggak,
Bu. Aina udah telat, biar sarapan di kampus saja, Bu.”
“Hati-hati
ya, Nak.”
Aina
mendekati perempuan yang paling dicintainya. Mencium pungung wanita paruh baya
itu, dan mencium kedua pipinya. Ibu menaruh tangan diatas kepala Aina sambil
mengatakan, “Semoga harimu penuh dengan kebaikan, dan bisa terus bermanfaat
untuk banyak orang, Sayang.”
Aina
hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Dia mengambil kunci motor yang di
taruh di atas meja. Kemudian menyalakan skuter matic-nya menuju kampus. Setelah
lima belas menit gadis mungil itu tiba di kampus. Dia berlari menuju aula utama
diadakannya rapat LDK.
Napasnya
terengah-engah, namun dia bersi keras ingin lebih cepat sampai ke Aula agar tidak terlambat. Di
depan pintu Aula, Miko sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya. Aina
berdiri di hadapan Miko, tersenyum lebar sambil menggaruk kepala yang tidak
gatal. Dia paham terlambat lima menit dari waktu yang di janjikan.
Miko
yang terbilang disiplin tidak menyukai seseorang yang terlambat, meski hanya
beberapa menit saja. Pria mata elang itu, memasang wajah galak di depan Aina. Dia
seperti seorang senior yang siap menghukum juniornya. Padahal mereka berdua
adalah dosen dan mahasiswa.
Miko
adalah pembina LDK, dan dia merupakan dosen muda di mata kuliah pengantar
bisnis. Dosen sekaligus entrepreuner yang menjadi icon utama di bisnis. Namun sokap
dinginnya membuat dia terkesan sedikit arogan, padahal dia cukup ramah di
keluarga terdekatnya.
“Kenapa
kamu terlambat?”
“M-maaf,
Pak. Saya tadi lupa, Pak kalau hari ini ada rapat LDK.”
Jawaban
polos Aina memperburuk keadaan. Sisi polosnya tidak membuat lelaki bermata
elang di hadapannya luluh. Dia malah membuat Aina berada di pilihan sulit.
“Kamu
tahu bukan saya tidak menyukai keterlambatan. Alasan kamu yang tidak logis
membuat saya kecewa. Mahasiswa yang tidak mengahargai waktu, tidak layak
menjadi LDK. Silahkan, pulang dan tidak usah bergabung lagi dengan LDK.”
Darah
Aina mendidih, jantungnya berdetak lebih kencang. Kalau saja bukan dosen,
mungkin Miko alias Dosen Miko itu sudah menjadi teman tandingnya. Dia mengatur
napas untuk meredam amarahnya. Wajahnya yang memerah, semakin memperlihatkan
bahwa AIna tidak dalam kondisi normal.
Entah
mengapa dia merasa takluk pada lelaki pemilik mata elang. Seperti ada sesuatu
hal dari matanya hingga dia tidak mampu mmbantah. Aina mengeluarkan jurus
terakhir, cuek dengan keadaan.
“Oke,
saya mundur. Semoga tidak menyesal telah mengeluarkan saya dari LDK, Pak.”
Aina
membetulkan ransel hitamnya, pergi meninggalkan Dosen Miko tanpa beban. Usai
pertemua itu tersirat dalam benak Miko, mahasiswi muda berkualitas yang tidak
tahu aturan. Cara ini semoga membuatnya jera untuk lebih menghargai waktu. Pikirannya
meski gamang melepaskan Aina yang memiliki potensi besar di LDK, namun hal itu
harus dilakukan. Pembelajaran buat mahasiswi unggulannya untuk bisa lebih
menghargai waktu.
#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPBatch8
#ODOPDay16
Komentar
Posting Komentar