Lelaki Senja
Sebuah pesan muncul di layar gawai milik Aina. Pesan kata biasa namun tanpa tahu yang mengirimnya. Hanya dua kata yang tertulis pada pesannya.
[Aina, Semangat…]
Aina
terlihat kebingungan mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Ya, pesan itu
hanya dibaca saja tanpa dibalas. Waktu menunjukkan pukul 22:00. Gadis itu masih
memikirkan tentang si pengirim pesan. Dia mulai berpikir, mungkinkah itu
teman-teman perempuannya, atau sahabatnya.
Tidak
ingin membuang waktu, Aina bergegas wudu, menyetel murotal Al-Qur’an dan
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia terlelap dalam alunan murotal
surat Ar-Rahmah dari Syekh Mishary Rasyid, sampai membuatnya tertidur.
Beberapa
saat kemudian, terdengar suara lelaki yang memanggil …
“Hei
… Apa kabar?” Ucap lelaki dengan wajah penuh senyuman.
Aina
terkejut, mengapa ada laki-laki di dalam kamarnya. Tidak, ini bukan kamar. Lebih
tepatnya sebuah jalan yang membentang lurus, menyisakan banyak tanda tanya
dalam benak tentang tempat tersebut. Tiba-tiba saja langit berubah menjadi
senja. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan lelaki itu, dia malah balik bertanya
padanya.
“Siapa
kamu? Apa kita saling mengenal sebelumnya?” Tutur Aina.
“Tentu.
Kita saling mengenal saat berjuta tahun yang lalu sebelum kita terlahir. Tuhan
merencanakan ini semua. Mungkin kamu akan merasa ganjil, namun percayalah ini
semua nyata.”
“Tunggu.
Apa maksud ucapanmu itu? Apa kita memiliki hubungan sebelumnya?”
“Sudahlah,
lupakan semua. Aku hanya ingin melihat keadaan sosok calon istriku. Melihatmu
sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, memiliki naluri keibuan, dan penuh cinta
cukup membuatku merasa yakin meminang di tahun ini.” Jelasnya masih meragu pada
jawaban Aina.
“Jangan
gila. Mana mungkin aku akan menikah dengan pria yang kutemui di dalam mimpi?
Aku masih waras!” Aina menimpali dengan senyuman mengejek.
“Aku
tahu, kamu butuh waktu mempercayai ini semua. Semua akan terjawab setelah
pertemuan kita berikutnya. Tunggulah, aku akan menemuimu kembali. Sampai Jumpa!”
Lelaki
itu berlalu, meninggalkan Aina yang masih mematung di pingir jalan. Jalanan ini
benar-benar mengingatkan Aina tentang sesuatu. Dia mencoba untuk mengingat,
namun memori dalam otaknya buntu dan hasilnya nihil. Dia menatap punggung
lelaki yang meninggalkannya. ‘Kuharap kita tidak akan pernah bertemu kembali.’
Batin Aina berbisik.
Begitu
banyak rencana Tuhan, satu dari sekian pertemuan terkadang menyisakan sebuah
teka-teki. Masih tentang lelaki senja, dia mengingat betul bagaimana cara dia
berbicara hingga cara berjalannya. Style pakaian yang di kenakan cukup resmi. Senyuman
khas, sikap gugupnya tersimpan dalam memori Aina. Entahlah, jika memang yang
dikatakan itu benar, semoga bisa bertemu kembali.
Tiba-tiba
alarm dari Gawainya berbunyi. Aina terbangun, dengan wajah penuh peluh
keringat. Kesadarannya mulai kembali. Dia bangkit dari tempat tidur, mengambil
handuk dan pergi membersihkan diri. Pukul tiga itu dia gunakan untuk bertemu
dengan Tuhannya. Hanya di waktu itu yang paling tepat mengadukan segala
kegundahan dalam hidupnya. Memberi ruang kedamaian tersendiri bagi Aina.
Ruang hati untuk
Lelaki Senja
Tidak peduli dimana kita bertemu.
Kutahu Tuhan merencanakan sesuatu yang hebat,
Cinta?
Entahlah, aku tidak bisa mengartikan bahwa ini
cinta.
Pertemuan ini terlalu singkat, hingga
menyisakan banyak tanda tanya dalam benak.
Ingin rasanya aku berteriak pada lelaki dalam
mimpi.
Bertanya tentang lelaki senja, namun ternyata aku tidak memiliki keberanian.
Aku hanya berpasrah pada Rabbku.
Membiarkan waktu dan takdir menjawab setiap
teka-teki lelaki senja.
Jodoh memang tidak pernah tertukar.
Yakin saja dia akan tiba dalam waktu yang
tepat.
Kusiapkan satu ruang hati, untuk lelaki senja yang kelak Tuhan titipkan.
#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPBatch8
#ODOPDay10

Komentar
Posting Komentar