Hana, Up Closed

Oleh : Sity Hana Nurjanah

 

#Sekilas tentang Hana

        Sity Hana Nurjanah, gadis berdarah sunda yang memiliki hobby mengolah dan mengkombinasikan kata. Sahabat terdekatnya, kerap kali memanggil dengan sebutan Hana. Saat ini usianya menginjak 27 tahun.  Alhamdulillah Allah masih menguatkan hatinya saat berjuang meski dalam kesendirian.

        Berawal dari kejatuhan karirnya dari dunia finance, kini dia mencoba menggeluti apa yang menjadi passion-nya. Saat hijrah di dunia finance menjadi ujian terberat baginya. Pulang bertugas dari luar kota, setelah perbantuan selama dua minggu tepatnya daerah Nganjuk, Jawa Timur. Dia mengajukan resign, meskipun saat itu mendapat tawaran promosi jabatan sebagai kepala  admin cabang.

Memulai segalanya dari titik nol di usia menginjak seperempat abad. Usia yang seharusnya menuai kematangan dalam berkarir, namun dia tinggalkan semua itu demi satu tujuan, kembali pada Allah. Entah seberapa kuat bertahan, dalam pikirannya hanya ingin berharap kedamaian dan ketenangan saat dekat dengan Allah.

                Badai hijrah di usia seperempat abad, dengan izin dan kuasa Allah dia mampu melewatinya. Bertahun-tahun dalam keadaan terombang-ambing dalam kebingungan pencarian jati diri. Saat itulah, Allah mengenalkannya dengan beberapa komunitas, Allah tuntun untuk bertemu orang baik yang membantu perjuangan hijrahnya. Komunitas yang membuat dia mengenal Allah lebih dekat, yaitu Pola Pertolongan Allah.

                Disinilah dia menemukan pentingnya Iman dan berharganya sebuah pengharapan (doa) pada Rabb-Nya. Selain itu, dia bertemu dengan komunitas dakwah Amazing Muslimah, menghantarkan pertemuan bersama teman-teman yang satu frekuensi. Menyusul beberapa komunitas dakwah lainnya yang Allah hadirkan lewat grup online. Seolah menemukan jalan baru untuk bernapas, berjalan dan berjuang di tracknya Allah.

 

#Tentang Percintaan

                Berbicara soal percintaan, dia pernah memiliki orang yang spesial dalam hidupnya. Namun, lagi-lagi percintaannya gagal. Allah mengambil orang yang dicintainya dengan caranya Allah. Sosok yang dikaguminya pergi meninggalkan tanpa kata, bahkan saat tulisan ini dibuat, tidak pernah tahu dimana keberadaannya.

                Hancur hati juga rasa yang pernah terbangun. Semua luka itu menimbulkan rasa trauma dalam cinta, hilang kepercayaan pada sosok lelaki, membuatnya menutup diri dari setiap lelaki yang mendekatinya. Dia merasa takut memulai, karena  kegagalan yang pernah di alaminya.

                Sampai pada akhirnya Allah mempertemukan dia dengan salah satu trainer Sekolah Cinta PPA. Bertemu dengan Mas Rizky, mengubah paradigm tentang cinta. Definisi cinta yang selama ini tertanam dalam pikirannya, salah besar. Ketika mendengar materi tetang cinta lebih dalam, seperti tertampar. Mengucap syukur berkali-kali untuk kegagalan yang di alami, agar Allah hadirkan kelembutan hati untuk mampu berdamai dengan masa lalu.

                Perjuangan cinta setelah hijrah, lebih berat lagi. Dia belum mampu menemukan orang yang tepat, memiliki visi, frekuensi, dan strategi yang sama. Namun, tidak ada kata lelah dalam menjemput separuh agama. Dia meyakini, jika Allah akan mempertemukannya dengan orang yang tepat.

                Hikmah kegagalan cinta itu, membuat dia menjadi terlatih untuk memanage hati, sabar juga ikhlas. Ilmu berharga itu dia dapatkan, saat dia mampu menerima kejadian pahit yang merupakan kehendak dari Allah.

 

#Perjalan Menemukan Passion

Setelah hijrah Hana mengalami kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan fashion-nya. Banyak kantor yang menolak karena alasan tidak mau memiliki seorang karyawan yang memakai baju gamis. Pada akhirnya Allah mempertemukan dengan satu lembaga, yang membuat dirinya mengenal lebih dalam tentang dunia anak-anak.

Gadis mungil itu diterima sebagai guru Day Care.  Bekerja sebagai guru Day Care, dia menemukan jiwa keibuan yang sempat hilang karena terlalu fokus bergelut di bidang keuangan. Kini dia menemukan malaikat-malaikat kecil, yang mengajarkan arti ketulusan, juga rasa bahagia tanpa syarat. Dekat dengan mereka, seperti menemukan penyembuh bagi diri yang pernah terluka karena cinta. Dari merekalah, hati yang sempat  membenci cinta, menjadi hati yang selalu penuh cinta.

Saat Covid 19 hadir, Day Care sempat terhenti beberapa waktu. Sempat merasakan penghasilannya menurun. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai berani mengambil peluang lain selain menjadi guru Day Care.

Kemudian dia memilih jalan menulis, dan bisnis online untuk menstabilkan financialnya. Menulis baginya seperti napas, bisnis bagian dari latihan mengolah passion marketing, sedangkan public speaking bagian dari jiwanya untuk bisa berbagi. Saling melengkapi antara ketiganya hingga pembelajaran dari bidang itu Allah berikan sekaligus.

                Panggung pertama moderator online, dia dapatkan saat menjadi moderator online di salah satu seminar “Speak with Positive Vibe”. Bekerjasama dengan salah satu alumni Akademi Trainer asal Cirebon, yang bernama Mbak Irma Yunita, murid dari Kakek Jamil Azzaini. Di seminar ini, dua batch berturut-turut mengambil peran sebagai moderator online.

                Pengalama berharga, dari sini dia mulai mengenal Akademi Trainer, mengenal dunia healing, ilmu menjadi leader, public speaking dan cabang keilmuan lainnya yang ada di Akademi Trainer. Setelah itu mulai melebarkan sayap, memandu di acara kajian Amazing Muslimah, Class Video Basic, Pejuang Pena Community atau bahkan di undang oleh komunitas tertentu untuk memandu acara.

                Pengalaman tidak terlupakan ketika menjadi moderator online, saat menemani acara “Trik Cerpen Tembus Media” di komunitas Pejuang Pena Community, bersama Kak Heru Sang Amurwabumi. Pengalaman paling berkesan, karena menjadi moderator online penulis professional yang menjuarai festival Ubud Writers. Panas dinginnya tidak bisa terlukiskan saat itu.

                Tidak cukup sampai di situ, dia mulai bekerja sama kembali dengan salah satu komunitas. Di komunitas itu dia menjadi admin, promotor, sekaligus Host Zoom Meeting dalam acara Sharing Time Online bersama salah satu Trainer Sekolah Cinta. Inilah panggung pertama menjadi Host dalam Zoom Meeting Online.

                Dalam dunia kepenulisan, dia pun mengepakkan sayapnya untuk mengikuti lomba menulis. Sempat dulu di tahun 2013, dia menjuarai salah satu ajang yaitu “Menulis Surat untuk Dahlan Iskan”. Dalam lomba itu, dia mendapat juara harapan 1 yang dimuat di salah satu Koran yang ada di daerahnya (Pasundan Express). Dari kemenangan lomba itu, di tahun yang sama, dia berhasil meraih satu penghargaan dari kampusnya sebagai Mahasiswi berprestasi dalam bidang karya ilmiah.

                Hasrat ingin belajar yang tinggi, membuat dirinya tidak pernah merasa puas belajar. Walaupun awalnya sempat mengalami trauma menulis saat tahun 2015 akibat hilangnya laptop pribadi, semua bisa dia lewati setelah mampu berdamai dengan masa lalu.

Kejadian pahit kehilangan laptop, membuat karir menulisnya terhenti, kuliahnya terhenti bahkan berakibat pada penurunan kualitas hidupnya. Sering mengalami ketakutan memulai sesuatu karena merasa takut kehilangan kembali. Padahal saat sudah berdamai, dia menemukan nikmatnya berjuang meski dengan segala keterbatasan yang ada.     

                Komunitas kepenulisan pertama yang di ikuti yaitu komunitas Subang Menulis. Dari komunitas ini, dia berhasil menjadi juara pertama menyelesaikan 30 hari tantangan menulis tanpa jeda. Hadiah dari komunitas ini yaitu voucher buku yang di tukarkan dengan buku “Ikuti saja mau-Nya” karangan Kang Tendi Murti. Lomba berikutnya dari Subang Menulis, dia berhasil menjadi tiga nominasi karya terbaik, dan mendapatkan hadiah voucher pulsa sebesar 50K.

                Pengalaman dari situ, semakin membuat dia percaya diri dengan tulisannya. Berani mengambil peluang untuk menulis buku antologi, yang bekerja sama dengan salah satu penerbit dari Malang yaitu Lauza Publishing. Bersama Lauza Publishing, berhasil membuat lima antologi. Berikut ini beberapa judul antotologi bersama Lauza Publishing yaitu Hadiah dari-Nya, Langkah Juang, Dia Bernama Ibu, Segala Asa dan Selaksa Tarian Pena.

                Kemudian bekerja sama dengan penerbit dari Sumatra yaitu Fitri Wede Publishing House. Kerjasamanya berhasil menelurkan antologi keenam yang berjudul Mengejar Cinta-Nya. Bahkan dalam jangka dekat ada beberapa antologi yang akan terbit.

                Antologi ketujuh telah terbit dalam bentuk ebook, yang ada di google playbook. Antologi kedelapan bersama MJ Pablishing yang berjudul Kota kenangan, dan antologi kesembilan tentang dunia pendidikan saat online. Itulah sepenggal perjuangan dalam menemukan passion di berbagai bidang.

 

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPBatch8

#ODOPChallange3

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini