Diantara Dua Pilihan

 

                 Pernahkan kamu dihadapkan pada dua pilihan terberat dalam hidup? Ya, kurasa setiap orang pernah mengalami masa ini. Bahkan, tidak jarang pilihan itu membuat tubuh bergetar karena memilih satu diantara pilihan tersebut.

                Kisah ini menceritakan perjuangan seorang gadis, dalam menggapai impiannya. Suatu ketika di sebuah komunitas dia bertemu dengan satu sosok lelaki. Tidak ada perasaan, atau bahkan terpikirkan untuk menjadi pendampingnya. Namun satu waktu, gadis tersebut mendengar celoteh dari salah gurunya tentang lelaki tersebut. Gurunya berkata dia masih sendiri di usia yang cukup menikah.

                Bukan hanya satu kali, namun perkataan itu berulang kali hingga membuat dirinya terpikirkan untuk menawarkan diri pada lelaki yang diceritakan gurunya. Dia merendah untuk menawarkan diri, melawan ego demi tujuan menjemput rida Allah, untuk menyempurnakan separuh agamanya.

                Dia utarakan maksud tersebut pada gurundanya. Entah apa yang ada dibenak gurunya, saat itu hanya mengatakan akan disampaikan. Dia tersenyum, merasa lega karena mampu melawan egonya. Dia mempersiapkan dirinya lebih giat lagi. Memantaskan diri agar bisa bersanding dengan lelaki pilihannya.

                Menariknya, saat perjalanan berjuang, Allah memberikan sesuatu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Kabar mengejutkan dia dapatkan dari Ustadzah yang ada di daerahnya. Ketika halaqah bersama Ustadzah di sebuah kampus, dia diajak ke sebuah ruangan. Dia bertemu dengan suami ustadzah, yang tidak lain merupakan pimpinan (rektor) di universitas tersebut.

                Pertemuan dengan Bapak ataupun suami ustadzah itu sudah sangat diidamkan dari dulu. Namun ada saja halangan saat hendak bertemu. Entah Bapak pergi penelitian ke Malaysia, ataupun pergi ke Bandung. Sulit sekali bertemu dengannya. Padahal pertemuan itu sangat diharapkan oleh gadis itu. Lewat dari tahun penantian masa kuliah, kemudian dia mencoba mengikhlaskan impian kuliahnya.

                Jelas saja, saat pertemuan terjadi, ini diluar rencananya. Seakan Allah mengatakan bahwa “Aku mendengar setiap mimpimu, dan kali ini aku berikan yang kamu mau.” Pantas saja, Ibu ustadzah menyuruhnya membawa selembar copy transkip nilai. Dia tersenyum, seakan keinginan kembali untuk kuliah ada di depan mata.

                Obrolan menarik seputar perkuliahan dengan Bapak begitu menakjubkan. Dia bersemangat kembali, meski resikonya harus mengganti background kuliah. Itu tidak masalah, tantangan baru agar dia memiliki skill baru di dunia kuliah.  Pertemuan singkat itu mendapatkan sebuah titik terang untuk satu impiannya. Dia tersenyum lebar, pulang dengan hasil yang diharapkan.

                Saat tiba di rumah, tiba-tiba saja hatinya gelisah. Dia teringat satu impian lain, yaitu separuh agamanya sudah melalui tahapan proses. Kini dia kembali termenung. Satu kata dia ucap pada Rabb-Nya, “Ya Rabb, aku tidak mana yang tepat diantara keduanya. Jika ada salah satu yang harus aku ikhlaskan maka kuatkan diri ini untuk menerima segala takdir yang Engkau tetapkan. Hamba pasrah, hamba ikhlas, hamba ridha, Ya Rabb.”


#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPBatch8

#ODOPDay17

Komentar

Postingan populer dari blog ini