_Arti Cinta_
Berawal dari sebuah perbincangan hangat dengan Papa dan Mama. Sedikit mengorek informasi tentang sebuah kata dalam pandangan mereka. Sambil menikmati acara di salah satu stasiun TV, aku mencoba membuka perbincangan.
“Papa, menurut Papa apasih makna cinta?”
Papa hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Seakan dia tidak percaya bahwa ini sebuah pertanyaan yang di ajukan untuknya. Sudah 28 tahun usia pernikahan Mama dan Papa, namun jarang sekali aku melihat Papa berkata romantis. Namun seketika pertanyaan itu di jawab oleh Mama.
“Cinta itu mau menerima kekurangan pasangan, setia menjaga rasa, dan selalu mengungkapkan dengan bahasa Cinta.”
Aku tersenyum mendengar penuturan Mama. Tidak menyangka akan menjawab seperti itu. Mama orang yang mudah mengekspresikan kata cinta sedangakan Papa jauh dari hal itu. Lalu, Papa tidak mau kalau menjawab.
“Buat Papa Cinta itu memberikan apa
pun yang kita punya, untuk orang yang kita cintai. Papa memberikan kecukupan
buat Mama, Teteh dan Adik-adik, itulah bagian dari bentuk cinta Papa.”
Dua kata yang menjadi kunci dari
jawaban Mama dan Papa. Salah satu berusaha untuk selalu memberi, sedangkan satu
lainnya menerima dengan penuh arti. Resep cinta mereka selama 28 tahun itu
cukup membuatku takjub. Seakan memiliki gambaran, bahwa kelak harus mampu
memberikan cinta terbaik dan menerima dengan penuh keikhlasan segala kekurangan
pasangan.
Lamunanku buyar saat Mama menuturkan
pernyataan.
“Mama itu jarang banget dapat
pujian, rayuan, dan kata cinta dari Papa.”
Aku hanya tersenyum, melirik pada
Papa yang pura-pura tidak mendengar malah asyik menonton salah satu siaran TV.
“Yah, gitu tuh Teh. Papa kamu nggak
pernah romantis, dari jaman dulu kayak gitu.”
Tanpa sadar aku tertawa menanggapi
curhatan Mama. Entah ini betul ataupun tidak, terkadang perempuan memang
memiliki tabiat ingin dipuji, di beri kata cinta, dan hal lainnya yang membuat
hati bahagia. Demi menetralkan suasana, akhirnya aku mendekati Papa
mempertanyakan kebenarannya.
“Apa yang Mama bilang itu beneran,
Pah?”
“Ya, Papa udah bilang ngapain banyak
ngomong soal cinta, romantisan. Yang penting bisa ngasih apa yang Mama mau
beres bukan?”
“Ya tapi Mama juga pengen denger
Papa sering bilang cinta juga, Pah.”
“Oke, Papa ucapin kata cinta special buat Mama. I Love You, Mama sayang.”
Hanya tersenyum menanggapi sikap
mereka berdua. Aku bersyukur meski bahasa cinta mereka berbeda, namun tidak
berujung pada konflik rumah tangga yang pelik. Terkadang dalam hubungan, bukan
siapa yang menang ataupun kalah. Namun kuncinya meredam ego diri, memberi yang
terbaik, dan lebih dulu meminta maaf.
Ya, aku teringat dari salah satu
ilmu dari Gurunda. Bahasa Cinta pasangan itu berbeda-beda. Ada lima hal bahasa
cinta pasangan :
1. Memuji
2. Quality Time
3. Menerima hadiah
4. Suka dilayani
5. Sentuhan
Dari kelima
hal tersebut aku melihat Papa yang suka dilayani, nyaman dengan sikap Mama yang
suka melayani. Mama yang suka di puji, selalu mendapat pujian juga kata cinta
dari Papa. Cukup indah melihat cara keduanya dalam berkomunikasi. Semakin giat
belajar, memperdalam ilmu psikologi dan komunikasi agar bisa memahami pasangan.
Teringat pesan dari Papa, “Kelak
kalau Teteh mau nikah, pilih laki-laki yang sayang Teteh melebihi sayangnya
Papa. Jaga perasaannya, hormati dan ikuti apa yang menjadi perintahnya. Selama
dia tidak keluar dari jalur agama, dan sesuai syariat Teteh wajib mematuhinya.”
Setelah iitu dia melanjutkan kembali
pesannya, “Kelak, kalau Teteh menjadi istri kemana pun pergi harus meminta
ijin. Sama seperti Teteh meminta ijin sama Papa, jangan hilangkan kebiasaan
itu. Pahitnya kalau denger Papa sudah Allah panggil, suami dalam keadaan di
luar kota, selama belum ada izin dari suami jangan pernah pergi tanpa izin
darinya. Papa lebih bangga punya anak yang taat pada suami, karena itu yang
bakal meringankan Papa dihadapan Allah.”
Kata-kata itu selalu membuatku
terharu, bahkan mampu meneteskan air mata. Tidak ada cinta pertama yang lebih
indah bagi seorang perempuan, selain cinta dari Papanya. Dia rela bekerja dari
pagi hingga malam, untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga. Aku selalu berdoa
agar Papa panjang umur, dan bisa menyaksikan aku bahagia dengan cinta
terakhirku. Dia yang akan bersanding di pelaminan, teman sehidup sesurga.
Ruang Cinta untuk Cinta Terakhir
Menunggumu bagian dari perjuangan cintaku.
Memantaskan diri untuk menjadi lebih baik,
itulah pembuktian cintaku.
Entah di episode mana Tuhan akan mempertemukan
kita.
Bagiku itu hanyalah bonus dari ikhtiar diri
saling memantaskan.
Aku meminta pada Tuhan, tolong jaga hatiku.
Jaga agar cintaku utuh, murni dan suci untuk
dia yang layak kucintai karena Rabb-ku.
Aku tidak menyesal menanti dalam waktu panjang,
karena ku tahu kamu layak menerima yang terbaik.
Maaf, aku terlambat menyadari semua ini.
Seharusnya, aku lebih dulu memperbaiki diri
bukan sibuk dengan dunia yang melenakan.
Maaf, lagi-lagi aku membuat kesalahan.
Kesalahan dalam menutup diri, hingga tidak
menyadari keberadaan cintamu.
Kali ini, aku mencoba perbaiki semua.
Memperbaiki akhlakku, kedekatan dengan Rabb-ku,
membuka hatiku menerima cinta yang baru.
Tahukah kamu, Mas?
Dalam sujudku, aku tidak pernah mampu menyebut
namamu.
Aku takut terlalu mendikte Rabb-ku hingga
akhirnya membuat kita semakin panjang dalam penantian.
Tak berani mengucap rindu, hanya terucap kata
di sepertiga malam, “Ya Rabb, sampaikan salam untuk calon imamku.”
Untuk dia lelaki yang selalu hadir dari mimpi ke mimpi.
Bertemu dengannya ibarat memecahkan potongan puzzle dalam
kehidupan nyata.
Wajah meneduhkan tanpa banyak kata.
Pandangan yang terjaga tanpa banyak mengumbar
apa yang dia punya.
Hanya mengatakan, “Tunggu aku. Aku selesaikan
semua urusanku terlebih dulu, setelah itu aku akan menjemputmu.”
Tidak ada kalimat penolakan dariku.
Senyuman yang mengantarkan kepergianmu.
Entahlah, engkau berada di bumi belahan mana,
Mas.
Aku hanya berharap semoga Allah menemanimu, dan
menitipkan segala sesuatu tentangmu pada Allah yang Maha Agung.
#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPBatch8
#ODOPDay6


Semoga bertemu dengan mas-nya di waktu yang tepat.
BalasHapusMasya Allah bahasa cinta kedua orang tuanya.
Pada kalimat 'Papa tidak mau kalau menjawab' sebenarnnya kalau - kalah iya?
Aamiin Kakak makasih doanya 😇
HapusYa kakak, betul. Papa jarang ngomong panjang lebar terkecuali kalau mood heu