After Dreaming

Oleh : Sity Hana Nurjanah

           

            Mentari mulai bersembunyi di balik awan. Menyisakan sinar berwarna oranye, diiringi tiupan angin yang berembus kencang. Aina menata kembali jilbab yang hampir terangkat karena tiupan angin. Wajah teduh gadis itu, terlihat muram seperti menyimpan sebentuk rasa gelisah.

            Aina duduk di teras rumah, sambil menikmati senja. Suasana senja yang indah, tidak seindah dengan suasana hatinya. Dia diliputi rasa bimbang, dengan kejadian pertemuan dalam mimpi. Pertemuan itu menyisakan banyak tanda tanya dalam benak. Entahlah, dia tidak mengerti harus bagaimana.

Hanya berharap pada Rabb-nya, seiring waktu bergulir semua teka-teki ini akan terjawab. Kelopak matanya tiba-tiba saja basah, dia masih mengingat kata-kata lelaki itu. Dia berharap bisa bertemu kembali, meski awalnya dia merasa jengkel dengan sikap lelaki itu. Punggung tangannya mengelap lelehan air mata yang keluar.

Harapan Aina, mampu menatap kembali wajah lelaki dalam mimpi, juga mengenal namanya. Angan-angan bertemu dengannya begitu saja muncul. Saat mengingat hal itu, dia mengucap istighfar. Bagaimana mungkin dia memikirkan seseorang yang belum halal baginya. Bahkan, wujudnya saja nampak tidak nyata dalam kehidupan.   

Lelaki senja muncul di saat dia terpuruk, saat Aina menutup diri untuk mengenal laki-laki. Baginya cinta itu hanya ilusi, sedangkan lelaki ibarat pemburu berdarah dingin yang membuat kalah dan terjatuh. Kembali Aina megucap istighfar, kali ini dadanya bergemuruh. Napasnya sesak, bernapas tidak beraturan seperti menahan sebentuk rasa cemas.

Tangannya bergerak mencari mushaf yang ada di dalam Ransel hitamnya. Dibukanya mushaf itu, tepat di surah Ar-Rahman yang menjadi surat favourite-nya. Gadis itu mulai membaca perlahan, menikmati setiap ayat demi ayat, yang sangat berhubungan dengan kehidupannya.

Azan Magrib berkumandang, dia menutup mushafnya. Bergegas wudu dan bersiap untuk melaksankan salat magrib. Setelah salat, dia kembali membaca mushafnya. Sampai waktu azan Isya, dia berhenti membaca. Lalu, Aina salat Isya berjamaah bersama Mama.

Beberapa saat kemudian setelah salat…

“Nak, kamu kenapa sayang? Dari pagi Mama lihat kayak yang sedih. Lagi ada masalah di kantor ya sayang?” Ucap Mama penuh kekhawatiran.

 Bagaimanapun menyembunyikan rasa, firasat seorang Ibu pasti tahu apa yang dirasakan anaknya.  

“Enggak, Ma. Nggak ada masalah di kantor, cuma ada satu kejadian yang bikin bingung. Aina nggak paham, apa maksud Allah dari kejadian yang saat ini di alami.” Tutur Aina.

“Memangnya kejadian apa sih, Nak? Kok sampai bikin anak Mama mendung wajahnya. Mama lihat Aina dari pulang kerja banyak melamun loh.” Mama mengelus punggung anaknya, menenangkan agar bisa berbicara lebih leluasa.

“Mama, aku memimpikan seorang lelaki.”

“Wah, siapa? Boleh Mama tahu siapa orangnya?”

“Nah, itu yang jadi masalah Mama. Aina nggak tahu siapa lelaki itu. Dia datang cuma bilang mau nengok calon istrinya. Padahal Aina nggak kenal dia. Wajahnya pun nggak jelas terlihat, bahkan dia nggak sebut namanya, Ma. Aina bingung maksud dari ini semua.”

“Udah, Aina jangan bingung. Sekarang banyak berdoa, coba salat istikharah dan tahajud, biar Allah bukain jalan. Sabar ya, nggak semua hal mudah kita pecahkan dalam hidup. Percayalah, setelah luka kamu di tinggalkan oleh seseorang, maka Allah gantikan kamu dengan orang yang lebih baik lagi.”

Perkataan Mama membuat Aina tersadar. Dia malu pada Allah, ingin semua masalahnya cepat selesai. Padahal masalah yang ada bukan untuk dicari solusinya, namun kita butuh tahu apa pesan cinta dari-Nya. Aina memeluk Mama, dia merasa lega telah mengungkapkan kegelisahan hatinya.

 

Notes :

Setiap yang bernyawa telah Allah tetapkan empat hal yaitu Jodoh, Maut, Bahagia, Musibah. Kita tidak perlu mengkhawatirkan empat hal tersebut. Mengutip salah satu perkataan Umar Ibn Khattab, “Aku sudah tidak peduli dengan susah dan senangku, karena aku tidak tahu mana diantara keduanya yang terbaik menurut Rabbku”

Komentar

Postingan populer dari blog ini