Tenang dalam Kegelisahan

Oleh Ana_Pena

 

                Suara jangkrik di malam itu, terdengar lebih kencang dari pada malam sebelumnya. Thalib duduk termenung di teras rumah, sambil menatap malam penuh bintang. Dia teramat menikmati indahnya malam meski dalam kesendirian. Sayup-sayup angin berhembus, membelai wajahnya. Pemuda itu merasakan dingin yang mulai menelusup kulitnya.

                Getaran hatinya menguat teringat satu Dzat Yang Maha Agung. Dalam keheningan malam, lirih dalam hati dia berkata, ‘Ya Rabb, aku mencintaimu. Jadikan hatiku selalu diliputi rasa cinta kepada-Mu setiap hari.’ Ucapan yang terdegar tulus dari dalam lubuk hati itu, membuat air matanya menetes. Air mata yang baru keluar, masih terasa hangat di pipinya.

Dalam kesendiriannya, dia menghabiskan waktu berdua dengan Rabb-Nya. Ya, tidak ada yang bisa mendefiniskan sebuah rasa itu. Dia merasakan ketenangan, meskipun hatinya di rundung kegelisahan dalam kesendirian. Cinta baginya adalah rasa teragung, maka dia tidak ingin menjemput dengan cara yang Allah tidak rida.

Menikmati masa penantian dengan menebar cinta dan rasa syukur, adalah cara terbaik membuktikan kesungguhan menjadi seorang hamba. Biarkan orang mengatakan apapun, asalkan itu membuat Allah rida, makin cinta dan sayang, maka itu membuat dirinya lebih bahagia.

Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan paruh baya yang memanggil namanya dengan penuh kelembutan.

“Anakku sayang, mengapa kamu menangis, Nak? Apa kamu malu dengan kesendirianmu saat ini?”

 Thalib hanya tersenyum, dia mencium lembut tangan wanita yang paling dicintainya. Berusaha tersenyum, menyembunyikan kegelisahan hatinya.

“Tidak Mamakku, anakmu ini justru merasakan bahagia.”

“Jangan bohongi mamakmu, Nak. Mamak tahu kegelisahan hati yang kamu rasakan. Berceritalah, Nak. Mamak selalu di sisimu untuk menguatkan.”

Thalib mengecup kening Mamak, sambil mencium pipi kanannya untuk menutupi rasa yang ada di hatinya. Cukuplah rasa itu dia simpan sendiri. Selama ini, terlalu sering wanita paruh baya itu di repotkan oleh semua permasalahannya. Kali ini dia ingin melihatnya bahagia. Bagaimanapun juga, Mamak akan menjadi wanita pertama yang selalu dia bahagiakan.

Kemudian lisan wanita yang dicintainya melanjutkan kata kembali.

“Mamak berdoa, semoga Allah mempertemukan anak mamak dengan wanita terbaik yang menjadi pilihan-Nya.”

Tidak ada kata yang mampu terucap kembali. Thalib hanya memeluk erat Mamak dengan sepenuh hati. Cinta dari wanita itu, mampu membuat dirinya melewati setiap badai kehidupan. Namun tetap saja, semua terasa belum lengkap. Dia masih belum menemukan satu wanita yang mengisi hati, dan menemani setiap langkahnya. Wanita yang akan menjadi pendamping bagi dirinya, dan juga ibu bagi anak-anaknya kelak.   

 Hari akad, selalu menjadi hari yang paling dinantikan oleh Thalib. Dia semakin menguatkan diri untuk lebih dekat dengan Rabb-Nya, menjaga kedekatan dan ketenangan ketika penjemputan. Dia berharap keberkahan dari Allah dari masa penjemputan hingga menuju halal.

***

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPDay56

Komentar

  1. Semangat, Thalib..
    Semoga jodohnya cepat sampai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap kakak... Aamiin Thalib dapat istri secepatnya... hee

      Hapus
  2. semangat menjemput jodoh, Thalib.

    BalasHapus
  3. Semoga diberikan jodoh terbaik di waktu yang tepat ya Thalib hehe

    BalasHapus
  4. Alhamrhum Mamaku banget, kayak mama Thalib, :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah... mama kakak baik banget ya... al-fatiha buat mama kakak... aamiin

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini