#Sepenggal kisah seorang hamba…
Melewati
setiap episode kehidupan, membuat saya tersadar, ada fase dimana kita harus
memiliki sebuah keyakinan yang menghujam dalam hati, agar mampu melewati
episode kehidupan, menarik hikmah ataupun pesan cinta dari-Nya.
Terkadang memang
berat, melewati hal yang tidak mengenakkan dalam hidup. Namun justru disinilah
tantangannya. Saat mau-Nya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tentu
itu yang menjadi dilema tersendiri.
Dulu sempat
pernah mengalami, tidak menjadikan Allah segalanya di dalam kehidupan. Lelah,
susah, sulit bahagia, diliputi rasa cemas, gelisah, dan banyak mengeluarkan air
mata kepedihan tanpa makna.
Mengejar
sesuatu tanpa melibatkan Allah, membuat saya merasa malu. Malu karena begitu
banyak nikmat yang Allah berikan, namun malah sibuk mencari yang belum Allah
titipkan. Mendikte Allah dengan semua maunya diri, tanpa berpikir apa yang
sebenarnya yang Allah mau, untuk dilakukan di sisa usia.
Ketika itu,
Allah memberikan kesempatan pada saya untuk merenung lewat perjalanan tugas ke
luar kota. Saat perjalanan menuju salah satu kota yang ada di Jawa Timur, ada
banyak yang saya alami. Kejadian tersebut membuat diri ini sadar, jika bukan
tanpa Allah, semua tidak akan berjalan sebagai mana mestinya.
Bekerja di satu perusahaan finance, membuat diri saya awalnya bangga. Saat perjalanan itu, mencoba merenung dan evaluasi diri. Setelah merenung, ternyata hati kecil mengatakan, bukan ini yang saya inginkan sebenarnya. Obsesi, ambisi dan kecintaan pada dunia finance mulai terasa pekat. Pada saat mencapai puncak kecintaan, Allah memberi saya pesan (hidayah) agar bisa pergi meninggalkan dunia itu. #Plak… Seperti tamparan keras buat saya. T_T
Pesan itu
terasa berat. Menampar diri yang terlena dengan hingar bingar dunia yang tak
semestinya saya kejar. Menangis sejadi-jadinya, malu pada Allah yang sudah terlalu
banyak memberi nikmat, tapi sebagai hamba malah lalai dan membangkang. #Allah
Ya Rabb T_T
Luapan
emosi dalam diri membuncah, hingga membuat tubuh lemas. Air mata terus mengalir,
hanya mampu terucap kalimat istighfar
sebagai bentuk penyesalan. Kejadian ini terjadi mendapat tawaran promosi
jabatan. Tidak bisa di pungkiri, sempat tergoda, ingin bertahan berkiprah di
dunia finance.
Allah tidak
diam kala itu. Dia titipkan rasa gelisah, bersalah, cemas, yang membuat saya
benar-benar takut mati dalam keadaan hina. Lalu, dengan sisa keberanian yang
ada, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Sebaik-baik pengingat adalah
kematian.
Saya sempat
bertanya pada Allah dan pada diri saya sendiri,
*Tanya pada Allah*
“Ya Allah, benarkah ini yang Engkau mau? Mengapa semua terasa berat? Apa
yang harus hamba lakukan Ya Allah? Bagaimana hamba memulai dan menjalani kehidupan
setelah resign nanti?”
*Tanya pada diri*
“Wahai diri, Allah memerintahkan kita untuk terhenti berjuang,
sanggupkah kita melakukan apa yang menjadi mau-Nya? Saya tidak ingin hidup berakhir
dengan kehinaan dan sia-sia.” T_T #nangis bombay
Memeluk tubuh sendiri untuk menguatkan. Merasa yakin
bahwa ini bukan sekedar pesan biasa, tapi harus di imbangi dengan action yang ada. Sembari menikmati tugas
dan suasana baru di daerah Jawa Timur, saya memupuk semangat juga keberanian
diri untuk melangkah.
Semakin
terlihat resiko yang ada saat memulai kembali di titik nol. Bahkan terpikirkan
pula mengawali di titik minus. Hanya mampu berpasrah agar Allah meringankan ujiannya dan menguatkan
pundak untuk bisa melewatinya. #ujianiman
Tetep semangat menulis mbak Hanaaa... Aku suka sama gaya tulisan2nyaaa...
BalasHapusMasya Allah makasih sudah mampir kakak... 😊
BalasHapus